Nova Ruth

the unheard frequency
Posts Tagged ‘hiphop’

Sentuh Fanatisme (Perluncuran Album APA Rapper of Aremania)

“Kami Arema, Salam Satu Jiwa”. Sadar atau tidak, yang dipanggil oleh Abud-PQ-Agungadalah JIWA. Sebutkan satu persatuslogan suporter klub sepak bola di Indonesia, mungkin hanya AREMANIA saja yang tidak ragu-ragu memanggil salah satu elemen manusia yang tidak akan mati meski raga sudah hancur di makan cacing dalam tanah. Saya tidak akan bicara hal yang mistis karena ini sangat logika. Bagian chorus dari Salam Satu Jiwa yang di rilis oleh APA Rapper bagi saya tidak beda jauh dengan nada pentatonik monoton yang digunakan untuk membuat penari jaranan kesurupan.

Tidak lama setelah APA memperkenalkan lagu ini pada suporter AREMANIA, Jules, pemuda yang kalian lihat selalu berdiri di podium dan memimpin ribuan suporter untuk menyanyikan lagu yang sama di pertandingan-pertandingan sepak bola apapun melawan AREMA, mulai tergerak untuk mengambil chorus dari lagu ini dan menyanyikannya saat pertandingan. Ketika saya melihat video ini http://www.youtube.com/watch?v=kHHspr9EJfk spontan saya langsung merinding. Dalam hati saya berkata, “ini teman-teman saya yang membuatnya”, sambil berbangga-bangga (tentu mata saya juga berkaca-kaca). Dan sebelumnya, Aremania tidak pernah melirik musik hiphop sekalipun. Katakan saja, APA Rapper membuat satu hip hop gol ke dalam gawang Aremania.

Adalah surga ketika mendengarkan beberapa baris dari lagu yang kita buat dinyanyikan oleh ribuan orang. Saya yakin 99% musisi setuju dengan ini. APA Rapper yang hanya tinggal PQ yang masih aktif di Malang meneruskan dukungannya kepada AREMA. PQ yang dibantu dengan Wiena dan masih didukung oleh Bellal menulis banyak lagu untuk AREMA dan menjadikannya sebuah album.

Timbul pertanyaan tentang bagaimana APA Rapper bisa mendapat perhatian dari Aremania dan secara otomatis itu adalah 70% dari penduduk kota Malang karena mereka mengaku sebagai Aremania. Jawabannya adalah fanatisme. Sentuhlah fanatisme jika ingin laku. Ini kenyataannya saat peluncuran album APA Rapper yang dirilis oleh Nyos Record dan disponsori oleh MVMNT di MyPlace tanggal 21 Februari 2011 kemarin, saat APA Rapper naik ke panggung, yang ada di depan panggung 99% adalah suporter Aremania (lengkap dengan dirijennya yang terkenal itu, Jules), satu persennya saya :) . Teman-teman hiphop yang datang dan akan mengisi acara duduk-duduk saja. Tapi bisa jadi mereka simpan tenaga. Dan ketika MH2C (Malang Hip Hop Community) naik ke panggung, suporter Aremania gantian duduk-duduk saja. Meskipun alibi simpan tenaga dan kehabisan tenaga bisa dipakai dalam konteks ini, tapi ini juga bisa jadi sebuah peta fanatisme. Mana yang fanatik Arema dan mana yang fanatik Hip Hop. Dan saya 90% yakin bahwa APA Rapper tidak fanatis keduanya.

Berikut adalah lagu-lagu yang dibawakan malam itu: 1. Save Arema ; 2. Ayo ; 3. Hai Aremania ; 4. Kecilku (bersama Yasmin – aremanita kecil) ; 5. Salam Satu Jiwa ; 6. Hati Jiwa Raga ; 7. Koen Jare Sopo ; 8. Menang Maneh

Selain MH2C, acara ini dengan sangat mengejutkan juga dihadiri oleh Indo Beat Box, Jakarta.

Terlepas dari fanatisme, APA Rapper saya pikir cukup fenomenal bagi Hip Hop Malang. Mereka tidak ragu-ragu menyodorkan sebuah lokalitas saat semuanya berlomba di dunia global. Sekarang coba tanyakan pada diri sendiri fanatisme apa yang kalian simpan dalam hati. Sebetulnya kalau diperhatikan, tidak ada fanatisme yang berakhir baik. Jika tidak berhati-hati, fanatisme akan daerah akan menjadi chauvinisme akut, fanatisme terhadap sebuah aliran musik akan bertransformasi menjadi fasisme terhadap aliran musik lain.

Beberapa foto dari peluncuran album APA Rapper of Aremania:

Catatan perjalanan Lapindo-Merapi-Jakarta

Setelah setahun lebih absen dari kegiatan Filastine, kami memutuskan untuk melakukan reuni, menyempurnakan dua lagu yang telah kami tabung dan memproses dua video klip sekaligus. Tema besar kunjungan kali ini adalah mengumpulkan sebanyak footage tentang konflik antara alam dan manusia. Kami mengunjungi Lapindo, lereng Merapi dan Jakarta dengan segala kekacauannya. Banyak sekali kesulitan yang kami hadapi dalam pembuatan video. Setelah dipikir-pikir, kita memang menghampiri area-area sulit dengan birokrasi dan politik yang cukup berbelit.

# Lapindo penuh kemirisan. Proses membuat video membutuhkan penyamaran sebagai pasangan yang mau menikah dan ingin membuat pre-wedding yang berbeda. Daripada mengisi kantong-kantong penguasa birokrasi, kami memilih untuk menggunakan jasa ojek yang dijalankan oleh penduduk setempat. Penggantian profilnya sebagai lahan wisata serasa kurang komplit tanpa pengetahuan tentang awal kejadian kekacauan ini. Sedih mendalam atau emosi yang meluap tidak cukup untuk menutup lubang yang menembus inti bumi itu.

# Lereng Merapi penuh ketakutan. Traumatis warga setempat membuat ruang gerak kami terbatas. Kami tidak bisa berbuat banyak karena kami adalah orang asing bagi mereka. Yang terutama bukanlah traumatis akan bencana, melainkan traumatis akan banyak kepentingan di dalamnya. Terlalu banyak kejadian “cari nama” di sekitar daerah bencana membuat kami harus duduk dan berbincang lama dengan sesepuh setempat dan meminta ijin untuk melakukan kegiatan di sekitar wilayah bencana lahar dingin. Bau mayat babi hutan di sungai yang kapan saja bisa meluap membuat saya khawatir dan mempercepat proses.

# Bantargebang di Bekasi Timur menjadikan kami lebih berhati-hati dalam membuang sampah. Sungguh pemandangan paling luar biasa sepanjang perjalanan kami di tanah Jawa. Ini mungkin adalah tempat paling tidak higienis yang mencoba menghigieniskan Jakarta. Pernahkan kalian pipis di botol air mineral karena macet? Pikir-pikir lagi kalau melakukan hal itu. Ada ratusan orang yang pekerjaannya mengambil sampah-sampah plastik kalian di Bantargebang. Dan bisa saja salah satu botol itu berisi pipis kalian. Coba gunakan analogi ini kepada apapun yang akan kamu buang. Pikir dalam-dalam sebelum menyampah.

# Semanggi, Jakarta terkenal dengan kemacetannya dari jam empat sampai tujuh. Kami memilih salah satu persimpangan dan melakukan protes di sana dengan boombox lawas dan megaphone rusak. Tentu orang akan berpikir kami gila. Karena saya memakai gaun putih indah dan tidak memakai alas kaki. Sedangkan Grey bersimpuh dengan boombox di atas kepala dengan muka tertutup kain dan mengenakan pakaian yang sangat rapi. Sopir taksi yang kemudian mengantar kami pulang mengaku sempat melihat penampilan kami ketika mengantar penumpang. Yang jelas kami merasa telah memberi cerita yang cukup berkesan kepada penggemar kemacetan Jakarta.

Berikut salah satu scene di Bantargebang yang bisa kami bagi sebelum video akhirnya akan kami luncurkan tahun ini.

IMG_0834

Bisa diintip juga eksperimen recording outdoor kami

We are the people with words.. – Hip Hop Lyric Critique #1, Malang

9 Desember 2010:

“maaf, Nova. HP ditaruh di tas. ini baru sampai di terminal Arjosari”, itu sms dari Madiva anggota dari X-Calibour. “ok, aku jemput aja ya. ini aku baru mau berangkat”.

Hujan sudah berhenti. Jalanan basah, matahari meninggalkan langit kota Malang dan lampu-lampu jalan bercermin di genangan air. Malang cukup indah menyambut semangat Madiva.

Di Soecorn sudah ada Wyna dan seperangkat soundsystem. Kursi-kursi sudah di tata di lantai paling atas, balcony yang menghadap ke Jalan Soekarno-Hatta dan pembangunan gila-gilaan di lapangan yang dulu cukup bersejarah bagi komunitas hip hop Malang dulunya. Kami suka nongkrong dan ngopi di warung Pak Ri yang punya tempe goreng paling enak se-Malang Raya menurut kami. Kami memandang jauh, tersenyum sedih karena masa itu sudah berganti.

Kabar buruknya, dua teman kami dari scene musik lain tidak jadi datang. Maka kami tidak memiliki lawan perspektif yang kami butuhkan. Tapi, tidak jadi masalah. Saya pribadi ingin melihat bagaimana kekuatan komunitas di kota Malang sekarang karena saya sudah absen kurang lebih tiga tahunan. Saya cukup terkejut melihat muka-muka lama dari delapan tahunan lalu. Diantaranya ada Da Dogers dan teman-teman Street Hip Hop, datang dengan style baju second hand seperti jaman awal kami bertemu. Wajah saya tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka masih di sini :)

Sebetulnya ide mengadakannya forum ini adalah ketika saya menyaksikan teman rapper dari Solo yang membawakan lagu tentang “silit” atau lubang dubur. Maaf jika ini terdengar menjijikkan. Tapi saya kurang nyaman mendengar lagu ini dibawakan di tengah mall dengan penonton yang umurnya tidak bisa dibatasi. Dan cara pikir yang menyaksikan pun tidak bisa dibatasi. Bukan berarti saya tidak suka. Tapi saya lebih setuju apabila lagu tersebut dibawakan di depan gedung DPR untuk menyampaikan betapa “silit”-nya pemerintahan kita masa kini yang datang ke gedung tersebut hanya untuk pindah tidur.

Intinya adalah di mana tanggung jawab kita sebagai pelaku musik hip hop membawakan lirik kita. Sejauh mana kita menentukan “target audience”. Sebisa apa kita menyamakan persepsi publik dengan apa yang kita tulis dan persembahkan ke publik.

Situasi semakin menghangat ketika salah satu teman kami, Doni Ukik, yang dulu berawal dari scene grunge dan akhirnya menemukan bahwa kita perlu menentukan identitas kita sendiri lalu menciptakan sebuah aliran musik yang dinamai ASIA-ANTIPOP, mulai angkat bicara tentang scene Hip Hop secara general. Saya sendiri mengakui bahwa pertanyaan tentang akar Hip Hop, muncul ketika Doni Ukik dan Donny Hendrawan (para anggota band Fresh Water Fish) datang menemui saya dan Indry lalu bertanya, sebenarnya di mana “inti”nya? Benar akhirnya TwinSista menemukan bahwa Hip Hop adalah alat kami untuk menyalurkan pendapat. Dan akan seperti itu seterusnya, tanpa menutup diri pada aliran musik yang lain.

Diskusi tentang pentingnya lirik pun berkembang menjadi di mana INTI dari Hip Hop sebenarnya. Apakah ini sebuah pergerakan? Apakah ini sebuah budaya urban? Apakah ini adalah salah satu cara untuk mencari penghasilan? Apakah ini adalah sebuah bentuk pencarian eksistensi?

Sebenarnya itu mudah saja. Tidak berarti semua pertanyaan ini datang untuk menciptakan kebingungan. Tapi untuk menciptakan keberanian untuk mengambil salah satu pertanyaan tersebut dan menjawabnya serta menjadikannya prioritas. Apabila hiphop adalah ‘underground’, maka hip hop berperan sebagai sebuah perlawanan budaya mainstream dan berani menjadi minoritas. Berani mendekonstruksi sebuah pemahaman dan mendalami media yang sebenarnya, yang non-mainstream.

Madiva juga sempat membahas tentang ke-AKU-an dalam hiphop, yang sebetulnya intinya adalah sama dengan yang dikatakan Doni Ukik. Bagaimana kita sebagai pelaku hiphop menjadi percaya diri dalam menjalaninya. Tidak ragu-ragu dalam menciptakan budaya dan bukan hanya menjiplak budaya yang datang dari negara lain saja.

Meskipun pembahasan lirik ini menjadi lebih dalam dan filosofikal, namun kita dapat menarik kesimpulan. Yang terpenting dalam aliran musik atau scene apapun adalah FUNGSI nya. Entah itu fungsi musik yang kita bawakan atau fungsi dari kita masing-masing sebagai pelaku hip hop. Kita harus menyadari bahwa selamanya “mainstream” adalah dampak yang muncul setelah sebuah idealisme berkembang. Toleransi antara kita harus tetap berjalan dan selalu ingat bahwa selamanya toleransi dan fanatisme adalah berbeda.

Terima kasih untuk Wyna, Madiva, Doni Ukik dan semua teman yang mendukung jalannya acara ini. Saya yakin ini kita akan bertemu di diskusi-diskusi yang lainnya. IF we are rappers, we dare to sit down and talk, right? We are the people with words..

Ketika rapper dikumpulkan di ILMU festival 2010

Banyak ocehan! Itu yang terjadi. Tapi tidak ada satu pun yang mengarah ke vandalisme atau menimbulkan pertikaian. Respect, ya :)


Butuh waktu agak lama untuk memikirkan apa yang harus saya tulis dengan tulus tentang ILMU festival tahun 2010. Saya pikir tidak begitu penting menuliskan standar reportase ‘kebaikan’ dalam ILMU festival. Karena memang hampir tidak ada yang buruk di sini. Kalaupun ada, hal buruk tersebut sangat mudah dilupakan keberadaannya.

Bayangkan berada di antara puluhan musisi Indonesia dan Australia yang keseluruhan berpikiran positif dan seratus persen sadar bahwa sebaiknya kami, para musisi, tinggal di planet yang berbeda. Karena bahasa kita sama. Dan politik negara adalah hal yang selalu menggelitik di telinga kami. Politik hanya topik yang kebetulan sangat enak digosipkan karena terlalu banyak keburukan di dalamnya.

Hari pertama saya dihadapkan dengan dedengkot Elefant Traks dan Yes No Wave. Urthboy dan Wok The Rock. Mereka musisi dan di satu sisi juga aktifis musik. Kedua label independen mereka secara sukses mendistribusikan musik. Orang banyak bertanya bagaimana ini menjadi ‘bisnis’. Ketika menyebut kata tersebut, mata kitapun menghijau ($$$). Dalam workshop Independent Music Business, ditemukan kenyataan bahwa musisi-musisi independen Indonesia yang tergolong “sukses” dan menyentuh benua lain, kebanyakan memiliki pekerjaan sendiri-sendiri selain musik. Meski keadaan kebanyakan berbalik di Australia, namun Urthboy berkata, kejadian seperti itu juga ada di negara lainnya. Dan memang, sebagai manusia, kita harus memiliki paling tidak satu mata pencaharian agar yang lainnya berjalan secara seimbang.


Yak! Bisnis tidak sepenuhnya uang. Saya pikir saya belum mencapai tahap berbisnis. Namun sebetulnya bertukar kepentingan dalam musik atau ‘kolaborasi’ juga bentuk bisnis. Pasti ada tendensi di belakangnya. Entah mengumpulkan portfolio saja atau bahkan bentuk sebuah kekaguman terhadap musisi yang kita ajak bekerjasama. Cukup bicara bisnis. Yang jelas kedua negara mengakui bahwa menjadi “sukses” membutuhkan konsistensi. (nr)

Prioritas dan Kecintaan akan hiphop

>

Sudah lama tidak berbagi isi otak dan hati saya yang terkadang kurang bisa dideterminasi pengklasifikasiannya. Just for info, kebiasaan nomaden saya belum berubah. Kali ini Malang menjadi tempat ternyaman untuk saya duduk dan melihat dunia luar lebih jelas. Dan kegiatan saya hari-hari ini cuma mencari rumah kontrakan baru dan mengisinya dengan barang-barang yang saya sukai. Karena itulah ada jeda cukup lama, mengingat berpindah dari Jogja ke Malang, disambi dengan pekerjaan aktifisme saya yang tidak berhenti cukup membuat saya berhenti sejenak menulis blog.

Biasanya, sebuah review akan terbit setelah ada acara yang telah diselenggarakan. Kali ini yang akan saya tulis bukanlah sebuah review. Katakanlah ini adalah sebuah harapan setelah acara ini dilaksanakan.

Tajuk dari acara ini adalah “APA KABAR HIPHOP JAWA TIMUR?”. Dari tajuknya saja, saya merasa ikut diteriaki oleh siapapun yang menorehkan kata-kata tersebut di poster yang kini terpublikasi di dinding Facebook saya. Saya juga sebenarnya sempat menanyakan hal yang sama. Saya sempat ditanyai oleh salah satu teman di Jogja, “ngapain di Malang?”. Katanya di Malang “gak asik”. Kalau teman-teman baca ini, mungkin sekarang ingin teriak, “siapa bilang Malang gak asik?”. Mungkin bahkan ada yang nanya, “Sopo, mbak wonge? kene tak antemane!” (artinya, siapa orangnya, sini biar saya pukulin). Biasa.. tabiat seperti itu juga ada di dalam darah saya. Tapi pengalaman serta tempaan keadaan membuat saya lebih baik dalam mengendalikan hal-hal seperti itu. Filosofi saya jadi berubah menjadi, “terlalu banyak yang terjadi di dunia ini. Dan semuanya menunjuk ke arah kehancuran. Namun tidak berarti harus apatis. Untuk apa kita menghabiskan energi demi hal yang tidak nyata. Sebaiknya bergerak untuk berubah agar sedikit lebih baik”. Ada banyak yang harus dilakukan di dunia ini. Termasuk menyuarakan aspirasi saya lewat musik RAP.

Kalau saya boleh berkomentar tentang HIPHOP di Jawa Timur, sebenarnya kita masih ada. Paling tidak, saya masih ada. Beberapa nama pemain lama juga masih bisa disebutkan. Kontak person yang ada di poster juga menunjukkan nama orang lama. Jadi, jika kita tanya tentang bagaimana kabar komunitas, tentunya masih ada. Hanya saja, bentuk komunikasi telah berubah. Karena kami pun berubah. Prioritas kami pun berubah. Tidak ada banyak nama yang dapat dinilai konsistensinya. Namun kami yang masih mencintai dan menjalani musik ini dapat dilihat perannya masing-masing di dunia HIPHOP. Meski prioritas telah berubah, kami punya bukti sederhana. Paling tidak di dunia maya, kami masih mencoba untuk tetap berteman. Beberapa dari kami telah ditelan oleh ibu bumi, namun kenangan kebersamaan kami tak pernah hilang. HIPHOP tahun 2000an di Jawa Timur, meninggalkan romantisme mendalam dan persaudaraan yang tak kenal jaman hingga kini. Katakan jika saya salah.. Saya bersedia merevisi paragraf ini bersama anda yang bersuara..

Tipikal masalah yang muncul dalam hiphop adalah hiphop sebagai musik yang “menghasilkan” atau “tidak menghasilkan”. Kita semua perlu ingat, bahwa kata “penghasilan” memiliki definisi yang luas dan berbeda bagi tiap-tiap orang yang menggunakannya. Bagi saya secara material memang menghasilkan. Meski hasilnya tidak dapat dibandingkan dengan artis-artis yang kerap muncul di infotainment. Tapi saya punya strategi. Saya tahu siapa yang mengkonsumsi lirik saya. Saya tahu harus ke mana. Tidak berada di sekitar teman-teman di Jawa Timur atau hiphop di Nusantara dalam waktu lama bukan berarti teman-teman bukan target pasar saya. Yang saya paham, selamanya kalian akan menjadi teman. Meski kalian muak karena saya terlalu banyak bicara yang berat-berat di panggung. Ha ha! Kenyataannya, tanpa mengurangi rasa hormat, selera hiphop saya berhenti sampai Perang Rap saja. Itu bukan hal yang narsistik. Jujur, saya suka sekali baik dari segi musik ataupun pergerakannya. Sungguh adalah suatu usaha yang kongkrit dan jelas tujuannya. Waktu itu KAMI INGIN DIDENGARKAN! Bagi yang terlibat di dalamnya dan tidak setuju akan perkataan ini juga boleh protes. Saya juga bisa salah dalam menginterpretasikan apa isi otak teman-teman. Mungkin tendensi dari kami per grup berbeda-beda. Tapi ada satu yang sama. Di segi ingin didengarkan oleh khalayak ramai.

Apabila boleh memberi saran, sebelum membuat sebuah konsep akan grup hiphop, yang terbaik adalah memikirkan apa dasar tujuan pembuatan grup tersebut. Setelah itu, maka akan mudah memetakan strategi pasar, siapa yang akan mendengarkan, ke mana akan disalurkan. Sungguh sangat normal dan umum, ketika mengetahui bahwa sebuah lagu di produksi tanpa tahu ke mana akan didistribusikan. Itu bukan masalah pada scene kita saja. Tapi pada semua scene musik underground dan alternatif, juga scene kreatif yang lainnya (video, art-performance, seni rupa, etc). Produksi terus berjalan tanpa ada strategi distribusi yang jelas. Fakta yang perlu diingat. Scene musik alternatif (di luar pop, dan dangdut) di Indonesia presentasinya adalah 10%. Dan kita ada di dalam 10% tersebut. Termasuk di dalamnya musik punk, underground dan tradisional. Bisa membayangkan seberapa kecilnya kita? Namun statistik ini tidak kongkrit. Jadi jangan sepenuhnya dipercaya. Jadikan sebagai gambaran saja. Karena bisa jadi angka ini mengecil seiring dengan perkembangan media elektronik juga. (ada pengaruh antara industri musik dan media elektronik).

Memiliki tujuan yang berbeda dalam ber-hiphop bukanlah masalah. Yang penting bagaimana kita saling membantu jika memang mampu untuk membantu. Saya rasa kata “HIPHOP” sudah cukup untuk menggambarkan bahwa kita ada di halaman pertama yang sama. Hanya saja, di balik halaman pertama tersebut terdapat bagian-bagian yang kalian sendiri penulisnya. Pilih saja warna dari hurufnya, coret saja dengan indah. Dan jangan lupa, ketika mendapati halaman itu telah penuh akan coretan teman hiphop mu, pilihlah halaman yang masih kosong. Karena “saling menindas” bukanlah hal yang indah untuk dipandang.

Salut bagi panitia penyelenggara acara ini. Saya harap kesimpulan terbaik dapat dicetuskan bagi kebaikan kita bersama. Tetap berpikiran positif. Dan ya.. perjuangan memang tidak pernah berakhir. Respect!

:: ditulis sambil mendengarkan album Sigur Ros.

Antara HipHop, Punk Anarkis dan imigran

Paella at Forat de Versonya

Minggu, 18 Oktober 2009

Secara tidak sengaja melewati sebuat taman menuju ke pasar, Forat de Versonya, yang berarti ‘the hole of shame’, tampak sibuk dengan wajan-wajan besar untuk membuat paella, free market, dan radio komunitas. Sebuah pojokan kecil dengan pohon digantungi foto-foto sejarah singkat taman ini juga siap membuka mata para pengunjung.

Saya dan Grey menghentikan sepeda kami dan berbicara sedikit dengan orang sekitar. Pesta besar akan diadakan hari ini. Bahkan sebuah set panggung telah dipersiapkan.

Sekilas cerita tentang Forat de Versonya, taman yang tidak akan anda temukan di peta Barcelona karena namanya sangat politis.. beberapa tahun lalu, di sekitaran taman ini terdapat beberapa gedung apartemen kosong yang dihuni oleh imigran dari Maroko, Turki dan beberapa negara timur tengah lainnya. Tidak hanya itu, kelompok punk anarkis juga menempati salah satu gedung tersebut. Istilah yang umum adalah “squatting”, menempati gedung kosong secara liar. Kultur ini cukup kuat di sekitaran Eropa. Saya sempat mengunjungi salah satu squat yang telah diduduki secara 9 tahun di Amsterdam. Namun Barcelona sedikit berbeda. Jika di Amsterdam gedung yang telah lama tidak ditinggali memang boleh ditempati dengan syarat tertentu, di Barcelona kegiatan ini cukup menimbulkan kontroversi.

Forat de Versonya telah dijadwalkan menjadi kawasan yang lebih modern. Entah pada tahun berapa saya kurang begitu dapat informasinya, namun di tahun 2003 masih terdapat foto penangkapan para penduduk yang melakukan demonstrasi atas pembongkaran yang dilakukan pemerintah. Sebelum taman ini dibongkar, dulunya para imigran menanam tanaman organik dan memagarinya dengan rangka ban sepeda bekas. Kegiatan sosial dan politik dilakukan rutin. Taman ini menjadi hidup dan hangat. Transformasi menjadi gedung yang lebih modern dan taman yang tidak lagi hidup pun memang terlaksana. Namun hingga saat ini kegiatan makan siang bersama dan pasar bebas serta pesta sampai malam untuk mengingat pergerakan ini masih tetap berjalan.

Duduk di taman ini bersama ratusan imigran dan punk anarkis membuat saya merasa nyaman. Kami ikut berbaris untuk mendapatkan makan siang “paella” yang dijual secara sukarela. Terlihat lelaki yang ada di dalam foto penangkapan tahun 2003 membawa kaleng dan meminta sumbangan pada kami yang antri. Suaranya lantang, wajahnya tegas seperti tidak bisa lagi disakiti, senyumnya lebar tidak takut mati.

Tak lama setelah kami sampai di rumah, kami mendapat kabar bahwa teman-teman rapper dari Kuba dan Senegal akan tampil lagi malam ini di Forat de Versonya. Kami kembali lagi ke sana. Semakin larut, semakin ramai. Dengan irama hiphop, semua yang ada di sekitar taman berkumpul di depan panggung dan berdansa bersama diselimuti suasana dan lirik yang politis. Semuanya termasuk teman-teman hiphop, punk anarkis dan para imigran.

Forat de Versonya