When we ask our Makers Muse Recipients to contribute to our blog, we never know what we’re going to get; it’s always an exciting moment to have that first read, that unusual introduction into what each artist is compelled to share with our Kindle community. In the case of Nova Ruth, we get a distinct insight into the roots of her name and how her name has helped to form her into the incredible artist she is today.
Nova, like many of this year’s recipients, is a true collaborator. She has been working intensively with Filastine, (whom Kindle also supported in 2009) and their combined efforts have resulted in brilliant new music. In addition to being an outstanding vocalist, Nova is also a Hip Hop artist, a community builder, and an activist and advocate in her home country of Indonesia. She has recently started a community coffee shop called Legipait in Malang. It’s the first of its kind in the region and acts as a community hub for local artists.
Nova is a multifaceted woman. As artist, activist, and entrepreneur, she is helping to put the roots, rhythms, and culture of Indonesia on the map. Below, we get a rare glimpse into her personal history.
Keep watching out for Nova Ruth. Who knows what project she’ll engage with next.
This video is one of global messages about the collapsing colony. Scenes:
• 1.5 hours from my hometown there’s a mud disaster going on. Bakrie is often mentioned as the person who started the Lapindo project. But now he’s trying to get elected as president in 2014.
• Big sections of the river in Muntilan are getting wider because of the Merapi volcanic eruption. The myth says, if humans make the river narrower (and build something on it), one day the river will take it back.
• Jakarta, so called megalopolis, the most crowded city in Indonesia, produces mountains of garbage in Bantar Gebang.
Many people think this video is about Indonesia, but what we wanted to actually say is: this is a very small example of what is happening globally.
On my name
by Nova Ruth
Many people asked is Nova my real name? I would love to tell you a little story about it.
I was born of two of the strongest people on earth.
My mother, Fatma Yoenia Ningsih, was the black sheep of her military family. She was a hiker and conquered the mountains around our city, Malang, including the highest mountain in Java. She said I sang beautifully and always pushed me to get on stage when I was a child, but I wouldn’t be so brave then. She wanted to name me after her best friend, Nova, who lost her life because of dengue and was a great piano player.
My father, Toto Tewel, is still a guitar legend in Indonesia. We met each other at least once a year throughout my youth. I barely knew him when I decided to move in with him in 2007, just because I wanted to know his personality. He has a band called Elpamas. They were big in the 80′s. Their lyrics talked about social problems back then and the over-power of the big people, the myths of our nation, even about the philosophy of tattoo. He joined a group named Kantata Taqwa/Samsara and SWAMI that was well known as a radical rock band that was influential in Indonesia’s revolutionary process back on 1998. I was invited to see his performances many times. Under my consciousness, those lyrics appear in my brain all the time, and affect what I have done even recently. He wanted to name me Setyaningtyas, meaning “the faithful in the deepest heart”.
My father’s father was a priest. He built a church in the middle of a Chinese cemetery. His church was burned down by some fundamentalist tribe. Sometimes he was threatened and they put a sickle around his neck to fear him. Pastor Moestopo. He was the one who taught me to sing when I was five years old. He recorded my voice and told me which parts were wrong, or false notes. He wanted to name me Ruth, one of the characters in the Bible that has faithful characteristics, loyal to her missing husband in the war, even staying with her mother-in-law to take care of her.
One day the elders told me that a name is a wish. Those people who loved me had a good wish when they named me. In Java, most people don’t carry a last name. This is the symbol of freedom. Today, I’m still free to decide how I carry these bravest of genes into my activism and music work. When I step on stage to work and meet with other brave people, faithful in what they are doing also free thinking and open minded, I feel that I am carrying my lineage forward. For example, in my recent collaboration with Filastine, the inspiration did not come far from where I grew up, but I wanted to deliver it as far as could.
And the next video is a cover song of Gendjer-gendjer, a traditional song that was banned by the Soeharto regime because it was used by Indonesian Communist Party to march. The lyrics are no crime. They tell a story about a plant that grew without anyone planting it, but people can also eat it. Soeharto covered the fact that 500,000 communists (real and suspected) were killed (by the army) for making a film about the killing of 7 army generals by communist (and screened it on national television every year until 1998). This is also a local story that is global. Every country has their own stigma and has covered it, never learning from their mistakes. No country is the best country. The truth is, no country is ever honest. Each individual should learn how to be honest and participate in the process of revealing the truth.
original link: http://www.kindleproject.org/blog/2012/10/18/feature-nova-ruth/
Berjalan di gang-gang kecil Granada, Carolina, teman kami bertanya, “apa kamu siap bertemu dengan Camaron?”. Dia menunjuk ke arah seorang yang cukup unik penampilannya. Topi yang “blink”, gitar akustik butut dan dandanan yang dandy. Camaron setuju untuk menyanyikan satu lagu. Sambil kami berteriak “OLE”, Camaron menyelesaikan lagunya. Di akhir pertemuan dan cipika-cipiki ala Spanyol, Camaron bilang, “mana bayaran ciuman di bibir?”, ke saya. Kami lalu tertawa sambil setengah lari.
Berlari di dalam api atau Correfoc merupakan tradisi Catalan sejak abad ke-12. Sempat hilang karena tradisi pagan dihilangkan karena religi mulai masuk ke Eropa dan dimulai kembali sejak tahun 1977. Tahun ini merupakan kali pertama saya melihat tradisi ini. Dan ketika melihatnya, saya teringat akan tradisi “bantengan” di Malang. Dua manusia yang menggunakan satu kostum banteng dan mulai kesurupan saat musik trans yang repetitif dimainkan, lalu banteng terusebut mulai mengejar para penonton.
Menakutkan sekaligus memacu adrenalin.
Correfoc mungkin memiliki maksud yang sama dengan bantengan. Bahwa di kehidupan ini ada yang namanya sisi gelap. Bantengan muncul untuk menunjukkan kegelapan. Correfoc muncul menyerupai neraka. Api di mana-mana dan iblis serta setan berlarian.
Filastine, me and Astu Prasidya (Tooliq) are starting video/music project. We want to speak up musically and visually. And why we need your help? Because record labels don’t really fund music videos anymore, and definitely not videos like this! Although we’ve been super-efficient (nearly all the labour is volunteered) this fundraiser is for those fixed costs we couldn’t avoid: transport, food, bribes, equipment purchase and rental.
PLEASE HELP SPREAD THIS: FACEBOOK, TWITTER, BLOGS, word of mouth, smoke signals.. Huge thanks for your help!
“Kami Arema, Salam Satu Jiwa”. Sadar atau tidak, yang dipanggil oleh Abud-PQ-Agungadalah JIWA. Sebutkan satu persatuslogan suporter klub sepak bola di Indonesia, mungkin hanya AREMANIA saja yang tidak ragu-ragu memanggil salah satu elemen manusia yang tidak akan mati meski raga sudah hancur di makan cacing dalam tanah. Saya tidak akan bicara hal yang mistis karena ini sangat logika. Bagian chorus dari Salam Satu Jiwa yang di rilis oleh APA Rapper bagi saya tidak beda jauh dengan nada pentatonik monoton yang digunakan untuk membuat penari jaranan kesurupan.
Tidak lama setelah APA memperkenalkan lagu ini pada suporter AREMANIA, Jules, pemuda yang kalian lihat selalu berdiri di podium dan memimpin ribuan suporter untuk menyanyikan lagu yang sama di pertandingan-pertandingan sepak bola apapun melawan AREMA, mulai tergerak untuk mengambil chorus dari lagu ini dan menyanyikannya saat pertandingan. Ketika saya melihat video ini http://www.youtube.com/watch?v=kHHspr9EJfk spontan saya langsung merinding. Dalam hati saya berkata, “ini teman-teman saya yang membuatnya”, sambil berbangga-bangga (tentu mata saya juga berkaca-kaca). Dan sebelumnya, Aremania tidak pernah melirik musik hiphop sekalipun. Katakan saja, APA Rapper membuat satu hip hop gol ke dalam gawang Aremania.
Adalah surga ketika mendengarkan beberapa baris dari lagu yang kita buat dinyanyikan oleh ribuan orang. Saya yakin 99% musisi setuju dengan ini. APA Rapper yang hanya tinggal PQ yang masih aktif di Malang meneruskan dukungannya kepada AREMA. PQ yang dibantu dengan Wiena dan masih didukung oleh Bellal menulis banyak lagu untuk AREMA dan menjadikannya sebuah album.
Timbul pertanyaan tentang bagaimana APA Rapper bisa mendapat perhatian dari Aremania dan secara otomatis itu adalah 70% dari penduduk kota Malang karena mereka mengaku sebagai Aremania. Jawabannya adalah fanatisme. Sentuhlah fanatisme jika ingin laku. Ini kenyataannya saat peluncuran album APA Rapper yang dirilis oleh Nyos Record dan disponsori oleh MVMNT di MyPlace tanggal 21 Februari 2011 kemarin, saat APA Rapper naik ke panggung, yang ada di depan panggung 99% adalah suporter Aremania (lengkap dengan dirijennya yang terkenal itu, Jules), satu persennya saya . Teman-teman hiphop yang datang dan akan mengisi acara duduk-duduk saja. Tapi bisa jadi mereka simpan tenaga. Dan ketika MH2C (Malang Hip Hop Community) naik ke panggung, suporter Aremania gantian duduk-duduk saja. Meskipun alibi simpan tenaga dan kehabisan tenaga bisa dipakai dalam konteks ini, tapi ini juga bisa jadi sebuah peta fanatisme. Mana yang fanatik Arema dan mana yang fanatik Hip Hop. Dan saya 90% yakin bahwa APA Rapper tidak fanatis keduanya.
Berikut adalah lagu-lagu yang dibawakan malam itu: 1. Save Arema ; 2. Ayo ; 3. Hai Aremania ; 4. Kecilku (bersama Yasmin – aremanita kecil) ; 5. Salam Satu Jiwa ; 6. Hati Jiwa Raga ; 7. Koen Jare Sopo ; 8. Menang Maneh
Selain MH2C, acara ini dengan sangat mengejutkan juga dihadiri oleh Indo Beat Box, Jakarta.
Terlepas dari fanatisme, APA Rapper saya pikir cukup fenomenal bagi Hip Hop Malang. Mereka tidak ragu-ragu menyodorkan sebuah lokalitas saat semuanya berlomba di dunia global. Sekarang coba tanyakan pada diri sendiri fanatisme apa yang kalian simpan dalam hati. Sebetulnya kalau diperhatikan, tidak ada fanatisme yang berakhir baik. Jika tidak berhati-hati, fanatisme akan daerah akan menjadi chauvinisme akut, fanatisme terhadap sebuah aliran musik akan bertransformasi menjadi fasisme terhadap aliran musik lain.
Beberapa foto dari peluncuran album APA Rapper of Aremania:
Setelah setahun lebih absen dari kegiatan Filastine, kami memutuskan untuk melakukan reuni, menyempurnakan dua lagu yang telah kami tabung dan memproses dua video klip sekaligus. Tema besar kunjungan kali ini adalah mengumpulkan sebanyak footage tentang konflik antara alam dan manusia. Kami mengunjungi Lapindo, lereng Merapi dan Jakarta dengan segala kekacauannya. Banyak sekali kesulitan yang kami hadapi dalam pembuatan video. Setelah dipikir-pikir, kita memang menghampiri area-area sulit dengan birokrasi dan politik yang cukup berbelit.
# Lapindo penuh kemirisan. Proses membuat video membutuhkan penyamaran sebagai pasangan yang mau menikah dan ingin membuat pre-wedding yang berbeda. Daripada mengisi kantong-kantong penguasa birokrasi, kami memilih untuk menggunakan jasa ojek yang dijalankan oleh penduduk setempat. Penggantian profilnya sebagai lahan wisata serasa kurang komplit tanpa pengetahuan tentang awal kejadian kekacauan ini. Sedih mendalam atau emosi yang meluap tidak cukup untuk menutup lubang yang menembus inti bumi itu.
# Lereng Merapi penuh ketakutan. Traumatis warga setempat membuat ruang gerak kami terbatas. Kami tidak bisa berbuat banyak karena kami adalah orang asing bagi mereka. Yang terutama bukanlah traumatis akan bencana, melainkan traumatis akan banyak kepentingan di dalamnya. Terlalu banyak kejadian “cari nama” di sekitar daerah bencana membuat kami harus duduk dan berbincang lama dengan sesepuh setempat dan meminta ijin untuk melakukan kegiatan di sekitar wilayah bencana lahar dingin. Bau mayat babi hutan di sungai yang kapan saja bisa meluap membuat saya khawatir dan mempercepat proses.
# Bantargebang di Bekasi Timur menjadikan kami lebih berhati-hati dalam membuang sampah. Sungguh pemandangan paling luar biasa sepanjang perjalanan kami di tanah Jawa. Ini mungkin adalah tempat paling tidak higienis yang mencoba menghigieniskan Jakarta. Pernahkan kalian pipis di botol air mineral karena macet? Pikir-pikir lagi kalau melakukan hal itu. Ada ratusan orang yang pekerjaannya mengambil sampah-sampah plastik kalian di Bantargebang. Dan bisa saja salah satu botol itu berisi pipis kalian. Coba gunakan analogi ini kepada apapun yang akan kamu buang. Pikir dalam-dalam sebelum menyampah.
# Semanggi, Jakarta terkenal dengan kemacetannya dari jam empat sampai tujuh. Kami memilih salah satu persimpangan dan melakukan protes di sana dengan boombox lawas dan megaphone rusak. Tentu orang akan berpikir kami gila. Karena saya memakai gaun putih indah dan tidak memakai alas kaki. Sedangkan Grey bersimpuh dengan boombox di atas kepala dengan muka tertutup kain dan mengenakan pakaian yang sangat rapi. Sopir taksi yang kemudian mengantar kami pulang mengaku sempat melihat penampilan kami ketika mengantar penumpang. Yang jelas kami merasa telah memberi cerita yang cukup berkesan kepada penggemar kemacetan Jakarta.
Berikut salah satu scene di Bantargebang yang bisa kami bagi sebelum video akhirnya akan kami luncurkan tahun ini.
Bisa diintip juga eksperimen recording outdoor kami
“maaf, Nova. HP ditaruh di tas. ini baru sampai di terminal Arjosari”, itu sms dari Madiva anggota dari X-Calibour. “ok, aku jemput aja ya. ini aku baru mau berangkat”.
Hujan sudah berhenti. Jalanan basah, matahari meninggalkan langit kota Malang dan lampu-lampu jalan bercermin di genangan air. Malang cukup indah menyambut semangat Madiva.
Di Soecorn sudah ada Wyna dan seperangkat soundsystem. Kursi-kursi sudah di tata di lantai paling atas, balcony yang menghadap ke Jalan Soekarno-Hatta dan pembangunan gila-gilaan di lapangan yang dulu cukup bersejarah bagi komunitas hip hop Malang dulunya. Kami suka nongkrong dan ngopi di warung Pak Ri yang punya tempe goreng paling enak se-Malang Raya menurut kami. Kami memandang jauh, tersenyum sedih karena masa itu sudah berganti.
Kabar buruknya, dua teman kami dari scene musik lain tidak jadi datang. Maka kami tidak memiliki lawan perspektif yang kami butuhkan. Tapi, tidak jadi masalah. Saya pribadi ingin melihat bagaimana kekuatan komunitas di kota Malang sekarang karena saya sudah absen kurang lebih tiga tahunan. Saya cukup terkejut melihat muka-muka lama dari delapan tahunan lalu. Diantaranya ada Da Dogers dan teman-teman Street Hip Hop, datang dengan style baju second hand seperti jaman awal kami bertemu. Wajah saya tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka masih di sini
Sebetulnya ide mengadakannya forum ini adalah ketika saya menyaksikan teman rapper dari Solo yang membawakan lagu tentang “silit” atau lubang dubur. Maaf jika ini terdengar menjijikkan. Tapi saya kurang nyaman mendengar lagu ini dibawakan di tengah mall dengan penonton yang umurnya tidak bisa dibatasi. Dan cara pikir yang menyaksikan pun tidak bisa dibatasi. Bukan berarti saya tidak suka. Tapi saya lebih setuju apabila lagu tersebut dibawakan di depan gedung DPR untuk menyampaikan betapa “silit”-nya pemerintahan kita masa kini yang datang ke gedung tersebut hanya untuk pindah tidur.
Intinya adalah di mana tanggung jawab kita sebagai pelaku musik hip hop membawakan lirik kita. Sejauh mana kita menentukan “target audience”. Sebisa apa kita menyamakan persepsi publik dengan apa yang kita tulis dan persembahkan ke publik.
Situasi semakin menghangat ketika salah satu teman kami, Doni Ukik, yang dulu berawal dari scene grunge dan akhirnya menemukan bahwa kita perlu menentukan identitas kita sendiri lalu menciptakan sebuah aliran musik yang dinamai ASIA-ANTIPOP, mulai angkat bicara tentang scene Hip Hop secara general. Saya sendiri mengakui bahwa pertanyaan tentang akar Hip Hop, muncul ketika Doni Ukik dan Donny Hendrawan (para anggota band Fresh Water Fish) datang menemui saya dan Indry lalu bertanya, sebenarnya di mana “inti”nya? Benar akhirnya TwinSista menemukan bahwa Hip Hop adalah alat kami untuk menyalurkan pendapat. Dan akan seperti itu seterusnya, tanpa menutup diri pada aliran musik yang lain.
Diskusi tentang pentingnya lirik pun berkembang menjadi di mana INTI dari Hip Hop sebenarnya. Apakah ini sebuah pergerakan? Apakah ini sebuah budaya urban? Apakah ini adalah salah satu cara untuk mencari penghasilan? Apakah ini adalah sebuah bentuk pencarian eksistensi?
Sebenarnya itu mudah saja. Tidak berarti semua pertanyaan ini datang untuk menciptakan kebingungan. Tapi untuk menciptakan keberanian untuk mengambil salah satu pertanyaan tersebut dan menjawabnya serta menjadikannya prioritas. Apabila hiphop adalah ‘underground’, maka hip hop berperan sebagai sebuah perlawanan budaya mainstream dan berani menjadi minoritas. Berani mendekonstruksi sebuah pemahaman dan mendalami media yang sebenarnya, yang non-mainstream.
Madiva juga sempat membahas tentang ke-AKU-an dalam hiphop, yang sebetulnya intinya adalah sama dengan yang dikatakan Doni Ukik. Bagaimana kita sebagai pelaku hiphop menjadi percaya diri dalam menjalaninya. Tidak ragu-ragu dalam menciptakan budaya dan bukan hanya menjiplak budaya yang datang dari negara lain saja.
Meskipun pembahasan lirik ini menjadi lebih dalam dan filosofikal, namun kita dapat menarik kesimpulan. Yang terpenting dalam aliran musik atau scene apapun adalah FUNGSI nya. Entah itu fungsi musik yang kita bawakan atau fungsi dari kita masing-masing sebagai pelaku hip hop. Kita harus menyadari bahwa selamanya “mainstream” adalah dampak yang muncul setelah sebuah idealisme berkembang. Toleransi antara kita harus tetap berjalan dan selalu ingat bahwa selamanya toleransi dan fanatisme adalah berbeda.
Terima kasih untuk Wyna, Madiva, Doni Ukik dan semua teman yang mendukung jalannya acara ini. Saya yakin ini kita akan bertemu di diskusi-diskusi yang lainnya. IF we are rappers, we dare to sit down and talk, right? We are the people with words..